Belajar Sepanjang Hayat

Barangsiapa meniti jalan untuk mendapatkan ilmu, Allah akan memudahan baginya jalan menuju surga.

Ke Blog ->

UDL salah satu framework dalam mengelola pembelajaran sekolah berbasis zonasi

UDL at Glance

UDL on Elon Musk Mindset

Universal Design for Learning (UDL) merupakan rancangan pembelajaran yang didefinisikan sebagai desain bahan ajar yang dibuat secara umum sehingga mudah dimengerti oleh peserta didik yang beragam dalam kelas inklusi. Dalam prosesnya, UDL mengurangi kesulitan belajar peserta didik yang memiliki kebutuhan belajar yang beragam, termasuk peserta didik berkebutuhan khusus, perbedaan budaya, latar belakang ekonomi, persepsi tentang materi pembelajaran dan penguasaan dasar peserta didik akan materi untuk dapat mengakses semua konten dari ilmu yang diajarkan oleh guru. UDL juga merupakan suatu kerangka kerja yang memandu perkembangan praktek kurikulum berdasarkan kebutuhan peserta didik dalam kelas dengan menggunakan bahan ajar fleksibel sehingga dapat mengakomodasi seluruh peserta didik dalam pembelajaran (National Center on Universal Design for Learning, 2010). Penelitian oleh Rose & Strangman, (2007) menunjukkan bahwa dengan menggunakan UDL setiap peserta didik bisa mendapatkan keuntungan dari berbagai pendekatan yang fleksibel. Bahan dan penilaian yang dirancang secara universal dapat membantu peserta didik yang beragam untuk mencapai tujuan bersama. Dalam kelas terdapat prinsip-prinsip UDL yang digunakan agar peserta didik berpartisipasi dalam pembelajaran yaitu : representasi, aksi dan ekspresi serta keterlibatan.

Representasi,Prinsip ini mengacu pada rancangan bahan ajar yang membuat konten dapat diakses oleh peserta didik yang beragam baik latar belakang, persepsi peserta didik maupun karakternya. Contohnya seperti bahasa, ekspresi, simbol, video, audio, percobaan sederhana dan diagram. Penelitian dengan pendekatan prinsip representasi dalam UDL telah lakukan oleh Susanet al. (2012), Searset al. (2014) dan Marinoet al. (2014), menggunakan video, audio, simbol, video game dan teks berbasis cetak. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa peserta didik lebih mudah dalam memahami, mengakses materi dan dapat memecahkan masalah dari materi yang diajarkan oleh guru. Pemahaman materi dari peserta didik ditunjukkan dengan adanya peningkatan nilai dari pretes yang dilakukan sebelum pembelajaran ke postes sesudah pembelajaran dengan UDL. Juga penelitian oleh Zydney & Hasselbring, (2014) yang menyediakan sarana representasi berupa video singkat dengan durasi 30 sampai 90 detik, hal tersebut mendukung peserta didik untuk termotivasi dalam belajar.

Aksi and Ekspresi, Prinsip ini dapat didefinisikan sebagai metode alternatif bagi peserta didik untuk berkomunikasi atau menunjukkan apa yang sudah mereka pelajari. Metode ini mencakup pedoman untuk beberapa sarana tindakan fisik, ekspresi dan komunikasi serta fungsi pemecahan masalah yang memungkinkan peserta didik untuk menemukan konsep baru yang belum mereka ketahui sebelumnya (McGuire, et al. 2006;Abellet al. 2011). Penelitian oleh Sears et al. (2014), Spooneret al. (2007) dan Marinoet al. (2014) memberi penjelasan tentang penggunaan prinsip aksi dan ekspresi dalam rancangan pembelajaran berbasis UDL, yaitu dalam proses pembelajaran di kelas guru harus menyusun bahan ajar agar peserta didik juga beraksi dalam memecahkan masalah yang dikaji atau peserta didik sendiri yang menjalankan prosedur pembelajaran tersebut. Sebagai contoh dalam pembelajaran dengan video game peserta didik tidak menyadari dalam permainannya tersebut ternyata mereka juga sambil mempelajari materinya. Hasil menunjukkan bahwa dengan adanya proses aksi dan ekspresi yang dijalankan oleh peserta didik tersebut, peserta didik lebih bisa mengerti pembelajaran yang diberikan oleh guru.

Keterlibatan, prinsip ini merupakan suatu strategi yang melibatkan peserta didik yang beragamdi kelas dalam proses pembelajaran misalnya, memberi kesempatan kepada peserta didik untuk mempresentasikan hasil percobaan, berdiskusi dan kesempatan peserta didik untuk menanggapi guru dan temannya. Dalam hal ini untuk mendorong keterlibatan bagi semua peserta didik kurikulum harus menyediakan bahan alternatif yang fleksibel (Rose & Meyer 2002; Marinoet al. 2014). Penelitian oleh Sears et al. (2014) memberi gambaran tentang penggunaan UDL pada prinsip keterlibatan. Peserta didik harus mengakses konten pada lembar kerja mereka dan meminta peserta didik untuk menghitung massa molar di Mole Student Workbook (MSW). Dengan prinsip ini membuat peserta didik terlibat langsung dalam pembelajaran sehingga materi yang diajarkan lebih dikuasai oleh mereka.

Metode UDL lebih memudahkan guru dalam mengakomodasi pembelajaran bagi peserta didik di kelas sekolah inklusi. Penelitian yang dilakukan oleh Courey et al. (2012) danMarino et al.(2014) dengan pendekatan yang sama yaitu rancangan UDL dikaitkan dengan teknologi, namun dengan instrumen yang berbeda dimana Courey et al. menggunakan rubrik penilaian berbasis online kepada guru dan peserta didik sedangkan Marino et al. menggunakan instrumen pretes dan postes. Hasil dari kedua penelitian tersebut memberikan hasil bahwa guru bisa mendapatkan keuntungan dari instruksi dengan perencanaan pelajaran yang menggunakan prinsip-prinsip UDL untuk membuat bahan ajar bersifat umum sehingga lebih mudah diakses oleh semua peserta didik yang beragam.

Selain merupakan suatu kerangka kerja yang memandu perkembangan praktek kurikulum dalam kelas inklusi sehingga dapat berjalan lebih lancar, manfaat tambahan UDL adalah kepada peserta didik dengan gangguan perilaku. Peserta didik tersebut dapat terlibat dalam materi dengan cara yang menarik perhatian mereka, menantang dan memungkinkan mereka untuk menemukan konsep sendiri. Kerangka didesain untuk membantu peserta didik dengan gangguan perilaku untuk memantau dan memperbaiki perilaku mereka sendiri. Dalam kelas UDL, peserta didik dengan gangguan perilaku menunjukkan sikap yang baik dan terlibat dalam proses belajar (Johnson-Harris, 2014).

 

 
Google Plus
{{ message }}

{{ 'Comments are closed.' | trans }}